Ini Cara Ternak Lele dengan Sistem Bioflok untuk Pemula


foto oleh pixabay


Potensi budidaya lele di Indonesia masih tinggi hingga hari ini. Permintaan akan hasil panen pembudidaya lele terus ada seiring dengan kesukaan masyarakat indonesia terhadap produk makanan berbasis ikan lele. Dilain pihak, teknologi budidaya lele juga turut berkembang.

Teknologi bioflok menjadi salah satu teknik yang bisa menjadi pilihan untuk menghasilkan keuntungan. Sayangnya, masih ada sebagian orang yang belum tahu cara ternak lele dengan sistem bioflok. Padahal, pengembangan hewan lele dengan cara semacam ini terbukti bisa memberi hasil yang bagus.


Teknologi Bioflok dan Keuntungannya

Bagi yang belum tahu, teknologi bioflok adalah teknologi budidaya lele yang diadopsi dari teknologi pengolahan limbah lumpur aktif. Prosesnya melibatkan kegiatan mikroorganisme semacam bakteri (probiotik)

Beberapa keuntungan ternak lele dengan sistem bioflok antara lain:

● Lebih efisien dalam pemakaian air

● Lebih produktif dalam hasil

● Lebih sedikit kebutuhan pakan

● Lebih efisien dalam pemanfaatan lahan

● Lebih sedikit limbah

● Lebih ramah lingkungan

Menurut sebuah literatur dari Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, Feed Convertion Ratio (FCR) rata-rata ternak lele adalah 1,5. Ini artinya untuk menghasilkan 1 kg daging membutuhkan 1,5 kg pakan. Namun dengan teknologi bioflok, FCR ini bisa ditekan hingga 0,8-1 yang artinya membutuhkan pakan lebih sedikit untuk menghasilkan produktivitas yang sama.

Hal ini ditengarai terjadi karena probiotik dalam bioflok memacu pertumbuhan pakan alami ikan sehingga lebih menghemat penggunaan pakan tambahan dari pembudidaya ikan. Penghematan ini tentu sangat membantu pembudidaya karena biaya pakan merupakan salah satu komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan lele.



foto oleh kumparan (salah satu jenis warung yang menjual makanan dari ikan lele dan banyak ditemui diseluruh wilayah Indonesia)


Cara Ternak Lele dengan Sistem Bioflok

Lantas, bagaimana cara ternak lele dengan sistem bioflok? Untuk menjelaskannya, berikut beberapa hal yang perlu disiapkan dan perhatikan. Uraian ini merupakan cara ternak lele bioflok untuk pemula.


1. Pembuatan Kolam

Prinsipnya, cara membuat kolam bioflok tidak boleh ada bentuk sudut. Sebaiknya, dibuat bundar. Kalaupun ingin tetap persegi, setiap ujungnya jangan membentuk siku.

Bahan yang digunakan bisa berupa terpal, beton, atau fiber. Jika bentuknya bundar, idealnya kira-kira berdiameter 2 meter. Adapun persegi, bisa dengan ukuran 2x4 meter persegi.


2. Persiapan Kolam

Kolam bioflok harus steril sebelum diisi oleh air. Maka sebaiknya bersihkan dulu. Lebih bagus jika memakai kaporit 10%. Baru setelah itu bisa diisi dengan air dengan tinggi maksimal 1 meter. Pastikan air yang dimasukkan sudah diberi kaporit dan didiamkan 3 hari. Jika kolamnya di dalam ruangan, tambahkan sodium tiosulfat untuk menetralkan air.

Selanjutnya, baru bisa pasang pompa yang berikut alat-alat pendukungnya.


3. Perlakuan Air

Sebelum menabur benih lele, air juga perlu diberikan perlakuan terlebih dahulu. Seperti dengan menambahkan kapur tohor, garam krosok, probiotik, serta molase. Diamkan dulu kurang lebih 7 hari sebelum air siap dimasukkan benih lele.

Agar analisa usaha budidaya lele sistem bioflok dapat mencapai keuntungan maksimal, jangan lupa lakukan pengadukan. Proses ini dapat menggunakan blower. Fungsinya agar bahan-bahan yang ada dalam air tercampur dan mengalami proses aerobik.


4. Penebaran Benih Lele

Untuk penebaran benih, pastikan benih yang digunakan ukurannya sekitar 7-8 cm. Tingkat kepadatan tebar yang direkomendasikan adalah 1.000 ekor untuk setiap 1 meter persegi.

Sebelum ditebar, benih bisa direndam dulu dengan vaksin. Waktu paling cocok untuk tebar benih adalah pagi atau sore.


5. Pengaturan Pakan dan Pengelolaan Air

Ketika benih selesai ditabur, sebaiknya beri waktu benih untuk puasa 2 hari. Pakan yang diberikan difermentasi dulu dengan menggunakan probiotik dengan jenis lactobacillus kira-kira 2-7 hari.

Selain pakan, air juga perlu dikelola dengan baik. Ternak lele dengan sistem bioflok akan sukses jika air diberikan probiotik ke dalam kolam. Namun, probiotik yang ditambahkan juga perlu memperhatikan dosisnya. Salah dosis justru akan menggagalkan panen yang lele yang diharapkan.

Dalam hal ini, pada tahun 2017 pemerintah melalui Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya sudah menjelaskannya. Pemberian probiotik dilakukan pada hari ke 1, 7, 14, 19, 24, 28, 32, 36, 40, 43, 46, 49, 52, 54, 56, 58, 60, 62, 64, dan 66. Dosis probiotik yang dimasukkan adalah 2 ml/meter kubik. Buku saku teknik budidaya lele dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dapat diperoleh disini.

Setelah mengetahui caranya, tentu salah satu aksi yang diperlukan oleh siapa saja yang ingin ternak lele dengan sistem bioflok adalah membeli benih. Gunakan benih yang baik untuk menghasilkan lele yang baik dan berkualitas. Demikianlah penjelasan yang dapat disajikan, semoga bermanfaat!

 

Address

Indonesia

Follow

  • Twitter
  • Instagram

Blog Dokter Hewan untuk berbagi cara merawat hewan dan tips memelihara hewan
©2020 by kawanhewan.