Menelusuri Jejak Sejarah Penyakit Rabies dari Masa ke Masa


Foto oleh unsplash


Mungkin, kita tak akan pernah mengenal kata “sehat” jika tak ada penyakit. Dalam sejarahnya penyakit menjadi salah satu predator paling menakutkan bagi manusia. Beberapa penyakit menyebar melalui hewan, misalnya melalui cacing yang menyebabkan berbagai jenis penyakit cacing, demam berdarah yang disebabkan oleh gigitan nyamuk dan dari hewan berdarah panas yang bisa menimbulkan penyakit rabies.

Dalam catatan sejarah, penyakit menular yang disebarkan melalui hewan telah menjadi salah satu bencana kemanusiaan besar di masa lalu. Sebut saja wabah hitam, yang disebarkan melalui tikus dan lalat, menyebabkan kematian sebanyak 75-200 juta di periode abad 14 (data oleh Wikipedia). Di masa modern, beberapa pihak juga berpendapat bahwa COVID-19 awalnya berasal dari kelelawar. Namun jangan khawatir, COVID-19 tidak menular dari hewan peliharaan.

Diantaranya banyak jenis penyakit yang disebarkan oleh hewan, rabies menjadi salah satu penyakit yang terbilang unik. Penyakit satu ini bisa tersebar dari hewan yang justru menjadi peliharaan kesayangan banyak manusia. Lalu, apa sebenarnya rabies itu? Simak berikut penjelasannya!


Mengenal Penyakit Rabies

“Rabies” merupakan satu istilah yang sering kita dengar dari dulu bahkan hingga sekarang. Lalu, apa sebenarnya rabies itu? Rabies secara harfiah berasal dari bahasa latin yaitu rabere atau rabia. Istilah ini kemudian berkembang menjadi sebutan “rabies” yang kita kenal hingga saat ini.

Rabies sendiri merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang akan merusak susunan saraf. Di Indonesia, rabies dikenal dengan sebutan penyakit anjing Gila. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang ditakuti nomor 1 di dunia serta menjadi penyakit yang harus diwaspadai karena bersifat fatal dan bisa menyebabkan kematian bagi manusia yang terpapar.

Penyakit rabies diketahui telah ada berabad-abad tahun yang lalu sama halnya seperti malaria. Penularan rabies di Indonesia secara umum dilakukan oleh anjing yang terinfeksi virus rabies dan kemudian melakukan kontak langsung dengan manusia melalui gigitan, air liur ataupun cakaran. Rabies dapat menjangkit jika luka dalam tubuh manusia terkena air liur anjing yang terjangkit rabies. Beberapa gejala yang akan dirasakan penderita yaitu:

  • Demam

  • Sakit Kepala

  • Kelebihan Air Liur

  • Kejang Otot

  • Kebingungan Mental

  • Kelumpuhan

  • Kematian (kasus paling fatal).


Setiap tahunnya hampir 59 ribu orang meninggal dunia dimana salah satu penyebabnya yaitu karena rabies yang disebabkan oleh gigitan anjing. Ironisnya, 40% orang yang digigit adalah anak-anak dibawah 15 tahun. Rabies menjadi salah satu penyakit yang benar-benar harus diwaspadai terlebih lagi saat ini populasi hewan liar khususnya anjing semakin tidak terkontrol di beberapa negara termasuk Indonesia.

Rabies menjadi salah satu penyakit yang ditakuti di dunia dimana penyakit ini juga dikenal di Babilonia sejak zaman Hammurabi. Bahkan di negara ini akan ada denda sebanyak 40 shekel bagi para pemilik jika anjingnya menggigit seseorang. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sebuah fakta menyebutkan bahwa rabies sudah ada di Indonesia sejak zaman Hindia-Belanda. Nah, untuk lebih jelasnya simak berikut jejak sejarah rabies di Indonesia.


Jejak Sejarah Rabies Di Hindia-Belanda

Sekitar abad 20, kebanyakan orang pada zaman Hindia-Belanda sedang populer menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan. Mayoritas orang yang memelihara hewan berbulu ini adalah para remaja Eropa Hindia-Belanda. Anjing yang dipelihara oleh mereka sangat terurus dengan baik karena memang berasal dari ras anjing yang bagus dengan harga yang cukup mahal.

Terlepas dari semakin populernya orang yang memelihara anjing ras, pada saat itu terdapat juga anjing kampung yang hidup liar. Anjing tersebut umumnya berasal dari ras Paria India yang merupakan ras terendah dalam sistem sosial India dan ras Mongrels Bali yang terkesan kotor dan tidak terawat. Anjing-anjing kampung inilah yang dianggap menjadi salah satu penyebab meluasnya wabah penyakit rabies sejak akhir abad ke-19 terutama di wilayah Jawa dan Sumatera.

Kasus penyakit rabies pertama resmi dikonfirmasi serta dilaporkan terjadi sekitar tahun 1889 dari Distrik Batavia (kini Jakarta). Walaupun telah terjadi sejumlah dugaan serta kecurigaan sejak tahun 1884. Gejala rabies awal mulainya telah terlihat pada kasus seorang serdadu Jawa yang digigit oleh seekor anjing pada tanggal 12 Februari 1891.

Penanganan pertama terhadap pasien yang terkena gigitan anjing tersebut yaitu dengan membakar lukanya. Setelah 2 minggu, kondisinya semakin membaik namun pada tanggal 4 April dia kembali sakit dengan gejala sakit encok. Pada tanggal 27 April 1892, serdadu tersebut meninggal dunia setelah sehari sebelumnya dokter menyatakan bahwa dia menderita penyakit rabies.

Wabah rabies kemudian semakin menyebar dengan cepat di sebagian besar Nusantara selama 2-3 dekade berikutnya. Hal tersebut karena pergerakan anjing yang ikut dalam pasukan militer Belanda, jaringan perdagangan serta karena dijadikan hewan peliharaan. Persebarannya semakin meluas dan sulit dikendalikan walaupun sejumlah kebijakan telah diberlakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk mengendalikan epidemi.

Sejak tahun 1890-an, penyakit rabies sudah umum dilaporkan dari Jawa hingga pantai timur Sumatera sampai Celebes/Sulawesi. Di tahun 1900 sampai 1916, kasus rabies dilaporkan telah sampai ke Kalimantan, Maluku dan pulau-pulau kecil lainnya. Sekitar tahun 1897 – 1916 terdapat 8.826 orang yang dirawat karena rabies dimana 97,5% pasien ditangani telah diobati. Penanganan medis ini sangat luar biasa dengan didukung dengan karantina super ketat yang dilakukan untuk mencegah kembali mewabahnya penyakit rabies di Hindia-Belanda.


Penanggulangan Rabies Di Masa Hindia-Belanda

Penyebaran wabah penyakit rabies ini membuat pemerintah kolonial Belanda turun tangan karena dianggap sangat meresahkan masyarakat. Selain karantina dan rehabilitasi yang sangat ketat sebagai upaya pencegahan, pemerintah juga melakukan penanganan pencegahan di ranah sumber penyakit. Saat itu, anjing-anjing yang diduga sebagai sumber penyakit harus diberantas guna menghentikan penularan.

Upaya pemerintah kolonial Belanda terhadap penanggulangan rabies secara formal telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Ketika itu dikeluarkan peraturan mengenai rabies yaitu hondsdolheids ordonantie. Upaya kuratif juga dilakukan pemerintah terhadap penanggulangan penyakit ini. Hal ini didukung dengan perkembangan jawatan kesehatan yang didirikan sejak tahun 1800-an. Saat itu, unit kesehatan terbaik yaitu pada unit kesehatan militer. Upaya kuratif dilakukan dengan cara melakukan pengobatan di beberapa rumah sakit zending yang tersebar di Jawa.

Setelah meredanya kasus wabah ini, pemerintah kolonial Belanda juga melakukan upaya preventif yaitu dengan memberlakukan aturan terkait legalitas kepemilikan anjing disertai dengan pemenuhan kebutuhan. Legalitas tersebut berupa peraturan terkait pajak anjing dimana setiap ekor anjing akan dipungut pajak sekitar F.1 atau 1 gulden per tahun.

Pemerintah kolonial Belanda juga melakukan serangkaian penelitian mengenai vaksin sebagai pengendali virus penyakit. Pada tahun 1890, didirikanlah lembaga pengembangan vaksin negara di Batavia (Jakarta) dan tahun 1923 pindah ke Jalan Pasteur Bandung dan menjadi Parc Vaccinnogen Instituut Pasteur, Bandung.

Berdirinya institut ini bertujuan untuk pembuatan vaksin yang beriringan dengan pembuatan vaksin cacar. Salah satu penemuan penting dari institut ini yaitu mengenai penanggulangan penyakit rabies yaitu ditemukannya vaksin rabies di Indonesia di tahun 1930. Maria van Stockum berhasil membuat vaksin rabies yang diinaktifasi dengan formalin yang berasal dari otak kera.

Namun pada masa pendudukan militer Jepang, tidak ada upaya untuk menanggulangi penyakit yang sangat mengancam masyarakat ini. Upaya kuratif ataupun preventif terhadap penyebaran penyakit rabies tidak berlanjut. Hal tersebut dikarenakan pemerintahan Jepang sibuk serta lebih fokus untuk menitik beratkan arah kebijakannya pada kegiatan militer sebagai salah satu upaya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya (Perang Dunia 2).


Penanggulangan Rabies Era Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, penanggulangan penyakit rabies kembali berlanjut. Banyak usaha-usaha preventif yang dilakukan seperti peningkatan produksi vaksin pada masa demokrasi terpimpin sekitar tahun 1959-1965. Produksi obat dilaksanakan oleh pabrik pemerintah serta perusahaan negara dan swasta. Sebagian besar produksi dari pabrik hanya melaksanakan assembling karena bahan pokok pembuatan obat berasal dari luar negeri. Salah satu pabrik obat pemerintah yang memproduksi vaksin rabies yaitu PN Biopharma. Hal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya PT Bio Farma, sebuah BUMN yang bergerak dibidang produksi vaksin.

Selain produksi vaksin rabies masih berlanjut, langkah preventif lain yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit menular ini yaitu dengan karantina. Dalam perkembangan selanjutnya, kebijakan dan langkah-langkah penanggulangan rabies terus dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit rabies. Upaya vaksinasi terus dilakukan untuk mencegah semakin meluasnya wabah penyakit rabies yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan hingga pemerintahan saat ini.

Itulah sekilas tentang sejarah rabies yang dimulai dari masa Hindia Belanda hingga setelah kemerdekaan Indonesia. Rabies menjadi salah satu penyakit yang selalu menjadi perhatian dunia sejak lama.Walaupun lebih dari 90% kasus rabies tersebar melalui anjing, rabies juga dapat menyebar dari kucing dan kera. Untuk itulah bagi Anda yang mempunyai anabul kucing, ada baiknya Anda melakukan vaksinasi rabies yang dapat diperoleh di dokter hewan terdekat. Bagi Anda yang tinggal di wilayah Gresik dan sekitarnya, Anda dapat membawa hewan kesayangan ke Kawan Hewan untuk memperoleh vaksin rabies.

Selanjutnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia dalam mengendalikan serta meningkatkan pencegahan terhadap penyakit rabies, setiap tahunnya tepat pada tanggal 28 September selalu diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia atau dikenal juga dengan World Rabies Day. Kawan Hewan juga akan melakukan program vaksin rabies gratis untuk memperingati Hari Rabies Sedunia. Ikuti terus pengumuman di media sosial Kawan Hewan untuk memperoleh info tentang pendaftaran program ini (kuota terbatas). Semoga bermanfaat!


Baca juga : Inilah Jenis-Jenis Vaksin Kucing Yang Sebaiknya Diketahui Semua Catlovers
22 views0 comments