• admin

Mengenal Manfaat Serangga Sumber Pangan Masa Depan Yang Benar-Benar Perlu Diperhatikan!


foto oleh unsplash


Seperti yang kita ketahui jika pertambahan jumlah penduduk di dunia dari tahun ke tahun terus bertambah. Hal ini secara langsung mempengaruhi kebutuhan pangan di dunia secara drastis. Namun sayang, daya dukung lahan akan semakin berkurang karena adanya alih fungsi yang menyebabkan semakin sempitnya lahan untuk menghasilkan pangan.

Dalam upaya mengantisipasi perubahan tersebut, FAO (Food and Agriculture Organization) mulai mencari solusi mengenai pemenuhan pangan di masa depan tersebut. FAO bekerjasama dengan ilmuwan di seluruh dunia untuk mencari alternatif dalam mengantisipasti serta memecahkan permasalahan tersebut demi memenuhi kebutuhan protein di dunia.

Sebagai gambaran, dalam film Snowpiercer yang dibintangi oleh Chris Evan, manusia di masa mendatang mulai menggunakan serangga sebagai alternatif sumber pangan. Dalam film tersebut, serangga dibentuk menjadi sepert potongan daging sapi. Meskipun hal ini terasa kontroversial dan sedikit tabu, tidak menutup kemungkinan serangga dapat menjadi kunci pemenuhan nutrisi untuk menghindari kelaparan global.

Upaya tersebut telah dimulai sejak 3 tahun lalu saat terjadi pertemuan antara FAO dengan para ilmuwan di Universitas Wageningen Belanda. Ternyata pada pertemuannya tersebut berdasarkan penelitian telah disepakati bahwa serangga bisa menjadi sumber pangan masa depan. Hal tersebut disepakati karena secara tradisional beberapa negara termasuk Indonesia menjadikan serangga sebagai kebutuhan protein.


Berikut Manfaat Dan Jenis Serangga Sumber Pangan Masa Depan

Berdasarkan laporan FAO pada tahun 2013, serangga bukanlah salah satu makanan yang asing untuk manusia. FAO yang bekerja sama dengan PBB menyebutkan bahwa terdapat sekitar 2 juta orang di dunia mengkonsumsi serangga sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Kebiasaan tersebut dinamakan sebagai entomophagy.

Serangga dikenal sebagai sumber protein yang ramah lingkungan. Hal tersebut tentu saja dikarenakan serangga menghasilkan polusi serta limbah yang lebih sedikit dibandingkan dengan protein hewani lain. Di Indonesia sendiri tentu ada beberapa masyarakat yang menjadikan serangga sebagai menu tambahan makanan. Misalnya saja seperti jangkrik goreng (sunda), belalang goreng atau bakar, peyek laron, botok tawon (Jawa), ulat sagu (Papua), sayok (Minahasa) dan lainnya.

Selain serangga diatas, tentu maish banyak ribuan jenis serangga sumber pangan masa depan yang bisa dimakan dimana umumnya merupakan jenis belalang dan ulat. Sementara di dunia, kebiasaan mengkonsumsi serangga sebagian besar berada di wilayah Asia, Selandia Baru, Afrika, Amerika dan Australia.

Namun walaupun demikian terdapat beberapa negara yang menganggap bahwa kebiasaan ini merupakan hal yang tidak normal. Salah satu ras yang menganggap hal tersebut yaitu ras Kaukasia. Mereka menilai bahwa kebiasaan tersebut hanya dilakukan oleh orang primitif.

Hanya saja seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan serta banyaknya penelitian yang dilakukan. Anggapan yang menyebutkan bahwa pemakan serangga merupakan bangsa yang tidak bermoral mulai sirna. Malah banyak sekali restoran di Eropa yang saat ini menawarkan serangga sebagai menu utamanya.

Walaupun harus melalui sejumlah tahapan kontrol dan penelitian sebelum dinyatakan layak konsumsi, saat ini semakin marak komersialisasi makanan yang berbahan baku serangga. Hal tersebut tentu semakin menunjukkan bahwa serangga sumber pangan masa depan.


Kandungan Utama Dalam Serangga

Masih membahas seputar serangga sumber pangan masa depan, perlu anda tahu bahwa banyak peneliti yang menyebutkan bahwa serangga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Serangga umumnya sangat kaya akan protein, kalsium, zat besi dan rendah karbohidrat serta lemak.

Secara mengejutkan ada juga yang menyebutkan bahwa serangga lebih bergizi serta sehat dibandingkan dengan daging sapi. Jika dilihat dari kandungannya memang bukan tidak mungkin jika asumsi tersebut benar.

Hal tersebut bisa dilihat dari kandungan nutrisi seekor jangkrik yang berbobot sekitar 1 ons. Jangkrik tersebut mengandung 121 kalori, 5,5 gram lemak, 12,9 gram protein serta 5,1 karbohidrat. Hal tersebut bisa dibandingkan dengan daging sapi dengan berat sama yang memiliki kandungan empat kali lipat yaitu 21,2 gram.

FAO juga mencatat bahwa jangkrik membutuhkan hanya seperenam pakan sapi, seperempat pakan domba dan setengah pakan ayam untuk menghasilkan protein yang sama dengan daging hewan ternak tersebut. Selain itu serangga juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dan amoniak yang lebih sedikit dari hewan ternak pada umumnya.

Keuntungan serangga tidak hanya sampai disitu saja, menurut UNICEF, hampir seperempat kematian anak-anak di bawah 5 tahun disebabkan karena malnutrisi dan gizi buruk. Untuk itu maka mengalihkan sebagian pola makan dengan mengkonsumsi serangga bisa menjadi solusi gizi buruk di negara berkembang.

Namun mengubah pola kebiasaan makan masyarakat tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Karenanya mulai muncul gerakan untuk mengolah serangga agar “lebih mudah” diterima masyarakat secara umum. Salah satunya adalah dengan merubah bentuk daging serangga menjadi bubuk protein atau dibentuk seperti daging cincang. Kedepan, pengolahan atau cara memasak serangga bisa menjadi kunci agar serangga dapat diterima secara luas di masyarakat.

Nah itulah potensi serangga sebagai sumber pangan masa depan. Dari ulasan diatas tentu saja sedikit banyaknya kita tahu betul jika serangga memiliki peranan penting untuk kehidupan di masa depan terutama untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani. FAO bahkan telah merilis panduan jangkrik sebagai serangga yang dapat dikonsumsi.

Semoga bermanfaat.

6 views1 comment