Mengenal Sistem Penggemukan Sapi Mulai Dari Dry Lot Fattening, Pasture Fattening Hingga Kombinasi


foto oleh unsplash


Seiring dengan semakin tingginya jumlah penduduk serta semakin membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat, hal ini mengakibatkan beberapa perubahan yang terjadi. Salah satunya adalah permintaan konsumen terhadap hasil ternak khususnya daging. Melihat kondisi tersebut, maka usaha peternakan sapi potong menjadi salah satu bisnis dengan prospek yang sangat cerah untuk dikembangkan di masa depan.

Secara garis besar usaha peternakan sapi potong terdiri atas usaha pengembangbiakan dan penggemukan sapi. Usaha pengembangbiakan saat ini telah mengalami peningkatan dengan adanya teknologi Inseminasi Buatan (IB). IB sendiri rutin dilakukan oleh peternak sapi perah untuk menunjang masa produksi susu. Jika peternak sapi perah mendapatkan anakan sapi betina, maka akan dipelihara sebagai sapi perah namun jika anakanya pejantan maka umumnya dijual sebagai bakalan sapi penggemukan.

Penggemukan sapi sendiri merupakan proses mendayagunakan potensi genetik ternak dengan misi untuk mendapatkan pertumbuhan bobot yang efisien dengan memanfaatkan input pakan dan sarana produksi. Tujuan utama dari penggemukan sapi ini tentu saja untuk meningkatkan produksi daging per satuan ekor. Terdapat 3 sistem penggemukan sapi yang ada yaitu dry lot fattening, pasture fattening dan kombinasi.


Berikut Sekilas Tentang Sistem Penggemukan Sapi Dry Lot Fattening, Pasture Fattening Dan Kombinasi

Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi sistem penggemukan sapi. Faktor-faktor tersebut yaitu seperti teknik pemberian pakan atau ransum, umur serta kondisi sapi yang akan digemukkan, luas lahan yang digunakan hingga lamanya penggemukan.

Di luar negeri, penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening, pasture fattening dan kombinasi. Kini banyak sekali peternak yang menggunakan salah satu dari tiga sistem penggemukan sapi tersebut. Untuk lebih jelas simak satu per satu sistem tersebut!


Sistem Penggemukan Sapi Dry Lot Fattening

Dry lot fattening adalah sebuah sistem penggemukan sapi modern yang umumnya dilakukan dengan cara memperbanyak pemberian pakan konsentrat. Dengan kata lain, para peternak hanya memberikan sedikit pakan hijauan yang tujuannya untuk mengefisienkan biaya pakan. Sistem ini kadang dilakukan secara sederhana di desa dan disebut juga sebagai kereman.

Perbandingkan antara pakan konsentrat dengan pakan hijauan yaitu 60:40 persen. Bahkan beberapa ada juga yang menggunakan perbandingkan 80:20 persen. Perbandingan tersebut biasanya didasarkan atas bobot bahan kering.

Pakan konsentran yang umumnya diberikan berupa bungkil kedelai, bekatul, bungkil kelapa hingga jagung giling. Bakalan yang harus digunakan yaitu sapi jantan berumur 1 tahun dimana sapi akan dipelihara sepanjang hari dikandang. Dengan kata lain seluruh kebutuhan minum serta pakan akan disediakan oleh peternak secara teratur sehingga sapi tidak keluar kandang.

Sistem penggemukan sapi dengan menggunakan metode dry lot fattening biasanya bertujuan untuk menghasilkan:

  • Baby Beef yang merupakan sapi potong yang diberikan pakan berkualitas tinggi sejak masih pedet dan masih menyusu dengan induk. Sapi akan ditempatkan di kandang sendiri dan terpisah. Sapi ini akan dipelihara sampai umur 10 sampai 15 bulan lalu setelah itu dipotong.

  • Young Beef merupakan sapi potong yang digemukkan seperti layaknya baby beef namun young beef akan dipotong ketika sudah dewasa yaitu diatas 1,5 – 2 tahun.

  • Veal merupakan sapi potong yang berasal dari bakal sapi perah yang sudah digemukan sejak lahir dengan cara diberikan pakan khusus. Misalnya seperti susu skim yang telah ditambah konsentrat. Veal biasanya akan dipotong setelah berusia 3 bulan.

Sistem ini banyak dipakai oleh peternak rakyat terutama di Pulau Jawa yang memiliki lahan terbatas sehingga tidak memungkinkan dilakukan penggembalaan. Selain itu pemberian konsentrat atau comboran sendiri sangat disesuaikan dengan bahan baku yang ada di sekitar peternak. Garam, probiotik dan tambahan makanan lain biasanya ikut diberikan sebagai pakan tergantung pada kebutuhan dan ketersediaan dari bahan tersebut.


Sistem Penggemukan Sapi Pasture Fattening

Pasture Fattening merupakan sistem penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara menggembalakan sapi di sebuah laham gembalaan. Dengan kata lain, tidak ada penambahan pemberian pakan entah itu berupa pakan konsentrat ataupun biji-bijian sehingga pakan yang tersedia berasal dari pakan hijauan yang terdapat di ladang pengembalaan.

Ketika menggunakan sistem ini maka peternak perlu menanam leguminosa supaya kualitas hijauan di lahan tersebut menjadi lebih tinggi. Nah leguminosa yang bisa ditanam seperti siratro, arachis, lamtoro, demodium trifolium dan centrosema. Bibit tanaman tersebut tentu bisa diperoleh di Balai Penelitian Ternak atau Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Tak hanya itu saja, pertenak juga perlu memperhatikan pemilihan lahan untuk penggembalaan. Pastikan pilihlah lahan yang jauh dari erosi ataupun kerusakan tanah. Anda juga perlu memperhatikan luas lahan, jangan sampai terjadi tekanan penggembalaan yang berlebihan. Pastikan juga untuk menyediakan air minum bersih, lempengan garam ataupun mineral blok agar sapi tidak dehidrasi dan tidak kekurangan mineral.

Sebaiknya tanami juga pohon-pohon disekitar lahan penggembalan sebagai tempat berteduh sapi. Sementara kandang pada sistem pasture fattering hanya memiliki fungsi untuk tempat berteduh ketika malam hari. Dari sehi biaya, sistem penggemukan sapi ini lebih murah dibandingkan dengan sistem lainnya. Hal tersebut disebabkan karena biaya hijauan serta upah tenaga kerja yang murah karena kita tidak membutuhkan tenaga kerja yang terlalu banyak.

Metode penggemukan ini biasanya dilakukan di Indonesia Timur seperti NTT dimana banyak terdapat padang sabana untuk penggembalaan sapi. Metode ini juga umum dilakukan di luar negeri seperti Australia dan Amerika Serikat.


Sistem Penggemukan Sapi Kombinasi

Sistem penggemukan sapi dengan metode kombinasi antara dry lot fattening dan pasture fattening bisa diartikan sistem penggemukan dengan cara penggembalaan sapi di padang penggembalaan pada siang hari. Sementara untuk sore dan malam hari sapi harus dimasukkan ke kandang lalu diberikan pakan konsentrat secukupnya.

Sistem penggembukan sapi ini biasanya dipilih oleh para peternak yang memiliki letak kandang yang tidak jauh dengan tempat penggembalaan. Dibandingkan dengan dua sistem diatas, sistem penggemukan sapi kombinasi ini jauh lebih singkat.

Nah itulah sekilas tentang sistem penggemukan sapi mulai dari dry lot fattening, pasture fattening dan kombinasi. Jadi, sistem penggemukan sapi mana yang akan anda pilih? Ketiga sistem diatas tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya sehingga anda perlu memikirkannya dengan matang!


Baca juga : Inilah Perbedaan Probiotik, Prebiotik Dan Sinbiotik Dalam Perternakan Yang Sebaiknya Diketahui!
40 views0 comments