Inovasi Cerdik Pada Ternak Sapi Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca


foto oleh unsplash


Selama ini, yang lebih diperhatikan sebagai sumber dari pemanasan global adalah gas rumah kaca yang diproduksi dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. Namun ternyata hewan ternak seperti sapi juga ikut menyumbangkan produksi gas rumah kaca di seluruh negara. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah jurnal yang ditulis oleh Elham Darbandi dan Sayed Saghaian yang menyajikan fakta baru yaitu emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian sapi adalah sebesar 65% dari total gas rumah kaca.

Menurut sumber yang lain yaitu Organisasi Pangan Dan Pertanian (FAO), FAO mencatat bahwa ternak sapi menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 5.024 gigaton CO2 Ekuivalen. Emisi tersebut mencakup sekitar 62% dari total gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sektor pertanian di dunia. Selain sapi, terdapat beberapa ternak lainnya yang menyumbang emisi terbesar yaitu babi dan kerbau.


Ternak Sapi Menjadi Penyumbang Pemanasan Global, Beginilah Inovasi Cerdik Untuk Mengatasinya!

Seperti telah disebutkan pada ulasan di atas jika sapi merupakan salah satu hewan ruminansia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Sebagian dari anda pastinya bertanya-tanya mengapa salah hal ini terjadi. Nah perlu anda ketahui bahwa hewan berkaki empat ini menghasilkan gas metana yang keluar dari gas buang lambung (kentut), sendawa dan kotorannya.

Metana sendiri merupakan salah jenis dari gas yang memiliki efek sebagai Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global. Gas metana dengan kadar yang tinggi bisa mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi. Gas ini bisa menyebabkan penurunan oksigen hingga 19%. Jika kadar gas ini sangat tinggi maka bisa menyebabkan kebakaran atau ledakan karena metana merupakan gas dapat terbakar.

Apabila pelepasan gas ini tidak ditekan dari peternakan sapi, maka pemanasan global akan semakin meningkat di masa mendatang. Terlebih lagi di Indonesia dimana ternak sapi merupakan salah satu usaha yang dilakoni oleh sebagian besar masyarakat dengan tingkat konsumsi yang terus digencarkan agar bisa memenuhi kebutuhan protein hewani. Indonesia sendiri masih melakukan importasi daging sapi karena masih belum dapat mensuplai kebutuhan dalam negerinya dari peternakan sapi yang telah ada.

Untuk menekan emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh gas metana yang berasal dari sapi, terdapat terobosan-terobosan inovatif yang bisa dilakukan oleh para peternak. Inovasi yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan Teknologi Natural Methane Reducing (NMR) dan fermentasi completed food.


Natural Methane Reducing (NMR)

Natural Methane Reducing (NMR) merupakan sebuah teknologi pemanfaatan dedauan yang mengandung tannin. Kandungan tannin bisa menekan gas metana yang keluar dari sapi. Umumnya dedaunan yang bisa digunakan mulai dari daun jati, daun mahoni hingga daun kaliandra.

Setiap tanaman mengandung kandungan tannin yang berbeda-beda sehingga mengkombinasikan berbagai jenis daun memiliki potensi yang lebih tinggi dalam menurunkan gas metana dibandingkan hanya memilih salah satu saja.

Teknologi NMR memang telah diteliti sejak lama, namun pemanfaatan langsung terhadap ternak belum lama ini dimulai. Pada skala laboratorium, hasil penelitian teknologi ini mampu menurunkan produksi metana serta meningkatkan penyerapan nutrisi pada pakan. Namun sayang, masih sedikit peternak yang memahami teknologi ini dan selebihnya banyak peternak yang belum memahaminya.


Fermentasi Completed Feed

Selain menggunakan teknologi NMR, ada juga cara lain untuk mengurangi gas metana pada ternak yaitu pemberian pakan fermentasi completed feed. Pakan dibuat dengan menggunakan bahan dasar sumber protein, karbohidrat dan serat kemudian ditambah dengan sumber mineral serta mikrobia untuk fermentasi. Sementara bahan utama fermentasi completed feed yaitu jerami yang dicacah dengan lembut lalu dicampur konsentrat serta tambahan tepung singkong.

Air untuk mencampurkan bahan pakan untuk fermentasi dibuat mencapai 35-45% kemudian campurkan sampai rata. Campuran tersebut dimasukkan kedalam tong plastik sampai padat lalu ditutup rapat selama 2 minggu atau 3 minggu. Pakan yang sudah di fermentasi akan mengeluarkan bau harum sehingga disukai oleh ternak. Pemberian pakan ini dilakukan secara bertahap agar ternak bisa beradaptasi.

Teknik ini bisa dibilang mirip dengan pembuatan silase dalam pengolahan pakan ternak yang memanfaatkan mikroba (probiotik). Metode pembuatan silase juga dapat meningkatkan kesukaan ternak terhadap pakan (palatibility) karena biasanya dicampur dengan molase. Teknik ini juga diharapkan dapat meningkatkan kecernaan pakan karena pakan sudah diolah menjadi lebih mudah diserap oleh lambung ternak.


Manfaat Menggunakan Teknologi NMR Dan Fermentasi Completed Food

Selain bisa menekan gas metana pada ternak ruminansia khususnya sapi, teknologi NMR dan fermentasi completed food juga memiliki banyak sekali manfaat. Berikut ini manfaat yang akan didapat:


Sapi Menjadi Lebih Sehat

Fermentasi completed food ataupun teknologi NMR bisa membuat nutrisi pakan menjadi lebih mudah diserap dan kebutuhan ternak akan pakan terpenuhi secara optimal. Pemenuhan kebutuhan ternak ini tentu akan membuat ternak menjadi lebih sehat. Baik Teknologi NMR ataupun fermentasi completed food sama-sama dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi dalam saluran cerna. Dengan begitu saluran pencernaan ternak akan bekerja secara optimal.

Penggunaan mikroba seperti probiotik khusus peternakan telah terbukti meningkatkan Kesehatan ternak sapi. Hal ini tercapai karena probiotik memiliki efek menekan mikroba pathogen dalam pencernaan sehingga hewan ternak lebih sehat dan produktif. Ini merupakan sebuah benefit yang tidak dapat dianggap remeh oleh peternak.


Ramah Lingkungan

Selain bisa membuat sapi menjadi lebih sehat, pemanfaatan teknologi NMR ataupun fermentasi completed food juga sangat ramah lingkungan. Hal ini tentu saja sangat penting untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan memperlambat pemanasan global.


Nah itulah sekilas tentang inovasi cerdik pada ternak sapi untuk menekan gas rumah kaca. Dikarenakan efeknya yang sangat tinggi, maka pemerintah perlu melakukan sosialisasi lebih gencar tentang hal ini mengingat juga sebagian besar peternak masih belum tahu tentang global warming (pemanasan global). Ikuti terus blog dan akun sosial media kawan hewan untuk mendapatkan berbagai info bermanfaat seputar hewan kesayangan. Semoga bermanfaat!


Baca juga : Cara Membuat Silase dengan Benar dan Tepat (Ternak Ruminansia)
10 views0 comments